IdragiriOne.com Jakarta-WARGA Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) diajak Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) PKB H Abdul Muhaimin Iskandar bertempur kalahkan pengikut Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia dengan gagasan.
"Tugas kita membasmi teror dan kekerasan yang mengatasnamakan agama dan merugikan penganut agama tersebut. Jangan biarkan agama dibajak sekelompok orang yang seolah mengatasnamakan agama tersebut secara keseluruhan," tegas Cak Imin sapaan akrab H Abdul Muhaimin Iskandar, Kamis (21/1/2016).
Apalagi, kata Cak Imin, sampai membiarkan ISIS membentuk kultur penghancuran yang berkembang menjadi organisasi kriminal transnasional.
"Dimulai dari Indonesia, kita kalahkan ISIS dengan pertempuran ide dan gagasan yang baik. Jangan berharap dimulai dari negara lain dalam berperang mengalahkan ISIS. Kita harus mulai dari Indonesia," ujarnya.
Kata Cak Imin, Turki sebagai negara sekuler lebih disibukkan dengan keamanan internal dan urusan bergabung dengan Uni Eropa. Begitu juga dengan Iran yang Syiah selalu sibuk dengan negara tetangganya dan dengan rival ideologi mereka yang berbeda.
"Negara muslim yang lain masih sibuk menata demokrasi yang tak kelar-kelar. Nah, Indonesia cocok jadi titik nol melawan ISIS," katanya.
Cak Imin menegaskan, Indonesia jauh dari ikut serta kedalam konflik di Timur Tengah dan sama sekali tak memiliki kepentingan geopolitik, kecuali mendambakan perdamaian.
Lagi pula, tutur Cak Imin, Indonesia merupakan contoh nyata dan langka ketika etika Islam bisa hidup berdampingan dan damai (coexist) dengan demokrasi.
"Kita punya Islam Nusantara yang menyebarkan toleransi Islam untuk meredam radikalisme, ekstrimisme dan terorisme. Islam Nusantara ingin menunjukkan kepada dunia bahwa interpretasi ISIS terhadap Islam sangat berbahaya dan melenceng," katanya.
Cak Imin menambahkan, yang digerakan dalam melawan ISIS adalah revolusi gagasan. Bukan semata dengan militerisme dan bedil. Dan untungnya, naratif kaum elite bangsa Indonesia jauh berbeda dengan Timur Tengah dalam menyikapi teror kekerasan ISIS.
"Pak Jokowi tak mau kita terjebak dengan istilah perang melawan terorisme atau melawan ISIS saat menanggapi kekerasan 14 Jan lalu. Istilah aksi yang mengganggu keamanan masyarakat dan ketertiban umum jauh lebih baik daripada istilah perang melawan terorisme," katanya.
Lebih jauh Cak Imin berkata, Indonesia contoh tempat demokrasi Islam tumbuh baik tanpa perlu memakai syariat Islam sebagai dasar negara seperti negara-negara lain.
Di Indonesia, kata dia, prinsip-prinsip Islam melebur menjadi nilai inklusif yang plural dan menjadi dasar bagi masyarakat. Indonesia sudah berada pada koridor yang tepat untuk menunjukkan kepemimpinan dalam gerakan global kontra ekstrimis dan radikalisme.
"Kita harus bertempur dengan gagasan dan ide melawan ISIS. Disitulah pertempuran sesungguhnya. Insya Allah kita menang," tutupnya.

